Bagikan

Hari dongeng sedunia diperingati setiap tanggal 20 Maret merupakan bentuk perayaan untuk menghargai keindahan cerita sekaligus mempromosikan pentingnya membaca, mendongeng, dan mengapresiasi karya sastra.

Sejak zaman kuno, cerita telah menjadi cara populer untuk menyampaikan pesan moral dan hiburan. Dongeng terkenal seperti "Cinderella", "Putri Salju dan Tujuh Kurcaci", dan "Aladdin" telah menghibur dan menginspirasi generasi selama berabad-abad.

Selain sebagai bentuk hiburan, kegiatan mendongeng membantu mempersiapkan generasi muda untuk mengembangkan kepribadian, pikiran, perkataan, sikap, dan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai. Oleh karena itu, dongeng dianggap sebagai media yang efektif dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak.

Baca juga : Mengapa Perlu Mengajarkan Seni dan Budaya kepada Anak-Anak?

SEJARAH DONGENG

Dongeng atau cerita rakyat sudah ada sejak zaman prasejarah dan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti menghibur, mengajar, dan menjelaskan fenomena alam yang sulit dipahami. Pada masa lampau, orang-orang sering menggunakan dongeng sebagai sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya dan moral yang dianggap penting bagi suatu masyarakat.

Sejak zaman dahulu, dongeng menjadi salah satu cara yang digunakan oleh manusia untuk mengajarkan nilai-nilai budaya dan moral kepada generasi selanjutnya. Sejak masa lampau, dongeng telah menjadi sarana untuk mengungkapkan makna-makna penting tentang kehidupan dan alam semesta yang sulit dijelaskan.

Dongeng telah menjadi bagian dari sejarah dunia yang dapat ditemukan di banyak negara seperti Mesir Kuno, China, India, Afrika, dan Eropa. Beberapa dongeng populer yang berasal dari Eropa termasuk dongeng Grimm bersaudara dari Jerman, dongeng Andersen dari Denmark, dan dongeng Perrault dari Prancis.

Awalnya, dongeng disampaikan secara lisan di antara generasi, tetapi pada abad ke-16 dan ke-17, dongeng mulai dicetak dan diterbitkan di seluruh Eropa. Pada abad ke-19, para pengarang seperti Grimm bersaudara dan Andersen mengumpulkan dan menuliskan kembali dongeng-dongeng tradisional untuk dibagikan kepada pembaca yang lebih luas.

Meskipun dongeng modern terus berkembang dengan cerita-cerita baru yang ditambahkan ke dalamnya, banyak nilai dan moral yang terkandung dalam dongeng tradisional masih relevan hingga saat ini dan terus diceritakan kepada anak-anak di seluruh dunia.

Baca Juga : Menyingkirkan Stigma ‘Anak-Anak Desa Berarti Ndeso’

EKSISTENSI DONGENG DI ERA MODER

Menurut UNESCO, Indonesia masih menjadi negara yang sangat memprihatinkan dalam kasus minat baca yaitu hanya 0,001% atau setara dengan 1 orang yang rajin membaca dari 1000 orang di Indonesia.

Mendongeng adalah proses menceritakan atau membacakan sebuah cerita, biasanya melalui lisan, dengan tujuan menghibur atau memberikan pesan moral. Mendongeng sendiri sudah menjadi tradisi yang berlangsung sejak zaman dahulu kala dan telah menjadi bagian dari budaya manusia di berbagai negara dan kebudayaan.  Mendongeng juga menjadi ritual sebelum tidur yang dibacakan oleh orang tua.

Akan tetapi, adanya perkembangan teknologi yang pesat di zaman sekarang dianggap sebagai ancaman terbesar bagi perkembangan dongeng, terutama di Indonesia. Kebanyakan anak-anak di Indonesia sekarang menganggap dongeng yang mengandung nilai-nilai lokal sudah ketinggalan zaman dan hampir tidak pernah didengar oleh siapa pun, bahkan sebelum tidur.

Perkembangan teknologi yang tidak dibandingkan dengan perkembangan dongeng anak  dapat mempengaruhi keberlangsungan cerita rakyat di tanah air. Teknologi yang semakin canggih seharusnya dapat mendukung perkembangan dongeng melalui karya visualnya. Hal ini berkebalikan dari semestisnya, video di sosial media maupun youtube dipenuhi oleh konten-konten hiburan yang lebih digandrungi di kalangan anak-anak.

Dalam meningkatkan eksistensi dongeng di era yang serba digital ini, perlu sekali dukungan dari berbagai pihak yaitu pemerintah, komunitas dongeng, dan orang tua.

Melalui perayaan hari dongeng sedunia pada 20 Maret 2023 dengan tema “ Together We Can” atau ”Bersama Kita Bisa” mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih peka dengan keberadaan dongeng yang mulai di gerus perkembangan zaman. Sehingga, generasi masa depan masih mengenal dongeng.