Bagikan

Oleh: Regyta Nuraini*

Tak heran jika Indonesia sebagai negara mulikultural memiliki berbagai macam budaya daerah. Namun, isu lunturnya budaya tentu tidak asing di telinga masyarakat. Berangkat dari hal inilah, perlunya generasi penerus bangsa yang nantinya bisa menjaga kearifan budaya kita. Siapa lagi kalau bukan generasi emas penerus bangsa. Mungkin sebagian orang tua masih melulu memfasilitasi anak dengan bimbingan akademik. Padahal seni bepengaruh besar pada kreativitas dari anak tersebut. Sehingga anak lebih mudah mengeluarkan ide-ide baru. Selain itu, belajar seni pada anak usia dini juga bisa melatih kerja sama antara anak dengan orang lain. Lalu bagaimana cara mengenalkan seni budaya pada anak yang mudah dan menyenangkan?

Ada perbedaan yang cukup signifikan dari pembelajaran akademik yang biasa dilakukan di sekolah dengan seni budaya yang cenderung lebih bebas. Mengapa? Karena seni adalah ruang lingkup yang tidak berpatok pada benar dan salah. Semua bebas mengekspresikan isi apa yang ada dikepalanya. Sehingga keadaan inilah yang mememungkinkan anak untuk memiliki keberanian atau percaya diri untuk mengungkapkan ide. Pentingnya pengenalan seni sejak dini kepada anak dapat dibuktikan dari banyak penelitian yang mengungkapkan pendidikan seni, terutama musik, mempunyai pengaruh yang baik bagi perkembangan otak anak. Salah satu penelitian dilakukan University of Toronto dengan menyertakan 144 orang anak berumur 6 tahun untuk mengikuti kursus piano, kursus vokal, dan yang tidak mengikuti kursus secara acak selama satu tahun. Hasilnya, anak-anak yang mengikuti kursus musik semakin baik perkembangan otaknya dan memicu kemampuan matematika serta IQ secara keseluruhan.

Dengan kata lain seni, sebagai salah satu produk kebudayaan, tak hanya bernilai estetik, namun juga menjadi medium yang merekam dan mengejewantahkan pengetahuan tertentu.

Pengembangan seni budaya pada anak-anak tidak semata-mata harus berbobot tinggi. Mungkin bisa diawali dengan memberi contoh kecil kepada anak dan masuk ke imajinasi mereka. Sehingga pendampingan pada anak harus terus dilakukan. Bagaimanapun hasilnya, berilah pujian agar anak menjadi percaya diri. Jangan lupa untuk mengajaknya sering berlatih mengerjakan aktivitas tersebut.

Setelah anak mengenali apa itu seni dan telah mengenali apa bakat yang mereka miliki, langkah selanjutnya anak dapat dikenalkan dengan komunitas atau lembaga pengembangan minat dan bakat. Salah satu contohnya yakni bisa bergabung dengan Imaji Academy. Imaji Academy tidak hanya semata-mata memberi ruang berekspresi pada anak, namun juga memberikan pendampingan penuh pada bakat yang dipilih oleh anak-anak. Hingga nantinya diharapkan kemampuan anak-anak ini bisa dikembangkan pada lingkup yang lebih luas lagi. Pendampingan ini dapat berbentuk bimbingan dari tentor yang berpengalaman di bidangnya.

“Ya, namanya anak-anak kadang moodyan untuk mengikuti kelas seni budaya ini, namun sebisa mungkin saya condong kepada anak-anak dengan semangat penuh untuk belajar bernyanyi,” tutur Dea, salah seorang tutor seni paduan suara di Imaji Academy.

Meningkatkan semangat belajar seni pada anak butuh ekstra kesabaran. Apalagi, banyak anak-anak yang menganggap mempelajari seni budaya tidak terlalu penting bagi mereka. Namun hal inilah yang harusnya menjadi motivasi pada tentor untuk membangun suasana lebih hidup lagi dan lebih menyenangkan lagi. Tentor-tentor ini diharapkan dapat memberi ide–ide baru untuk membuat anak ’betah’ dalam kondisi belajar tersebut. (*)

Atribusi Penulis:

*Regyta Nuraini, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UNEJ (2020) dan research apprentice Imaji Sociopreneur.