Bagikan

‘Tukar Tabungan Sampah dengan Sembako’, begitulah nama kegiatan yang dilaksanakan pada 14 dan 26 April 2022 lalu ini. Kegiatan yang melibatkan lebih dari 100 nasabah bank sampah dan waste lab ini termasuk dalam program Imaji Lingkungan (I-LINK) yang diinisasi Imaji Sociopreneur dan PT Universal Tempu Rejo di 5 desa di Kabupaten Jember.

Program yang berfokus pada reducingreusing, dan recycling serta pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah melalui Bank Sampah, Waste Lab, dan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) ini berupaya mengajak masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangganya sekaligus mengubah stigma terkait sampah.

“Sampah seringkali dianggap tidak bernilai. Padahal melalui pengelolaan yang benar, sampah justru dapat menjadi alternatif income bagi masyarakat. Jadi selain menyentuh aspek lingkungan, ada juga aspek ekonomi di dalamnya. Inilah yang mendorong kami meluncurkan I-LINK sejak Agustus 2021 lalu,” kata Direktur Lingkungan Imaji Sociopreneur Rohman Abadi.

Lebih lanjut, Abadi menuturkan bahwa penukaran tabungan sampah dengan sembako dilakukan sesuai kesepakatan antara nasabah dan masing-masing pengurus unit pengelola sampah di bawah I-LINK.

“Ada yang sepakat di akhir tahun, ada juga yang sepakat menjelang lebaran ditukar dengan sembako. Karena biasanya, kan, harga kebutuhan pokok akan naik menjelang lebaran. Kami mengikuti kesepakatan itu saja,” ujarnya.

Kegiatan penukaran sampah dengan sembako di unit pengelola sampah Waste Lab Barokah Jaya dilakukan pada 14 April 2022 dan melibatkan 32 nasabah di sekitar desa Bagon, kec. Puger. Yang unik, mekanisme penukaran juga melibatkan UMKM di sekitar desa. Ini dilakukan, kata Abadi, agar semakin banyak masyarakat yang mengenal dan bahkan mau terlibat dalam program I-LINK sekaligus membantu perputaran ekonomi UMKM di desa.

“Pertama, ini bagian dari komitmen kami untuk memberikan hak kepada masyarakat yang menjadi nasabah. Reward karena telah menjadi nasabah dan turut andil dalam memilah dan mengelola sampah rumah tangganya, ini hak mereka, jadi ya harus diberikan,” ujar Abadi.

“Selain itu, biar masyarakat yang belum menjadi nasabah juga mengenal kami, bahwa sampah ternyata bisa juga ditukar dengan sembako. Selain itu, dengan bekerja sama dengan toko di desa supaya membantu perputaran ekonomi UMKM desa juga. Alhamdulilah pasca kegiatan itu sudah ada 100 orang yang tertarik menjadi nasabah,” tambahnya.

Saat ingin menukar sampahnya, masing-masing nasabah cukup membawa buku tabungan yang berisikan jumlah sampah yang telah dipilah dan dikumpulan sejak Agustus 2021. Kemudian, pengurus unit pengelola sampah akan mencatat dan memberikan kupon sebesar nominal masing-masing untuk ditukarkan dengan kebutuhan pokok di UMKM desa yang telah ditunjuk.

“Ditukarnya bebas, bisa mie, minyak, sirup, atau apa saja yang diinginkan nasabah,” pungkas Abadi.

Sedangkan penukaran tabungan sampah di unit pengelola Bank Sampah Sumber Rejeki yang melibatkan 72 nasabah di sekitar desa Kesilir, kec. Wuluhan dilaksanakan pada 26 April 2022. Mekanisme yang dilakukan cukup sama, nasabah hanya perlu membawa tabungan sampahnya, kemudian dicatat dan ditukarkan dengan kupon oleh pengurus.

Berjalan nyaris setahun, upaya pengelolaan sampah dari hulu lewat I-LINK ini cukup membuahkan hasil. Total sampah yang terpilah dan terkumpul di unit pengelola Waste Lab Barokah Jaya mencapai 529, 62 kg dengan rincian 225,84 kg sampah plastik; 191,16 kg kertas; dan 112,62 kg besi.

Sedangkan total sampah yang terpilah dan terkumpul di unit pengelola Bank Sampah Sumber Rejeki mencapai 1,2 ton dengan rincian 308,57 kg sampah plastik; 476, 15 kg kertas; dan 415,1 kg besi.

Hasil ini membuat Abadi optimistis: bahwa pengelolaan sampah sejak hulu sangat mungkin diupayakan melalui skema yang adil bagi masyarakat. Ia pun berharap ke depan, semakin banyak masyarakat yang mengenal dan terlibat dalam program I-LINK.

“Tentu kalau semakin banyak masyarakat yang terlibat, makin banyak masyarakat yang sadar untuk memilah dan mengelola sampahnya secara mandiri, persoalan sampah bisa teratasi. Naiknya volume sampah menjadi keniscayaan seiring meningkatnya jumlah penduduk, yang menjadi tantangan sekarang adalah membangun unit-unit pengelola di tingkatan terkecil, yakni desa, kampanye pentingnya pemilahan dan pengelolaan, dan mengubah stigma masyarakat terhadap sampah yang terlanjur dianggap sebagai sesuatu yang tak bernilai,” tandasnya. (*)

https://imajisociopreneur.id/storage//storage/images/summernote-image/1652157573.jpg