Setiap Minggu, sekira pukul 08.30 WIB
di Sanggar Kiprah Saka Wetan Dusun Krajan, Desa Kesilir RT 05 RW 01, Avied
Sanjaya menyulap halaman rumahnya menjadi tempat latihan reog bagi anak-anak.
Sudah tiga bulan ini puluhan anak
laki-laki dan perempuan sekira TK hingga SD berlatih reog dan sejumlah kesenian
Jawa Timuran di sana.
Haryo Pamungkas dan Sonia Nurdiansa
dari Imaji Sociopreneur berkesempatan mengobrol dengan Avied, generasi ke-4 pengelola
sanggar saat berkunjung ke rumahnya pada Minggu, 26 September 2021 lalu.
Diiringi musik reog yang mengalun dan
tawa anak-anak yang sedang berlatih, kami mengobrol panjang lebar tentang
sejarah sanggarnya, upayanya menanamkan nilai tradisi reog kepada anak-anak,
hingga keprihatinannya mendapati nilai tradisi reog yang mulai bergeser.
Bagaimana sejarah sanggar reog ini,
Mas?
Kalau sanggar Kiprah Saka Wetan ini
baru saya dirikan pada 2019. Sanggar ini masih di bawah paguyuban sanggar Singo
Mudo yang dikelola Pakdhe saya. Soal
sejarah sanggar, saya hanya dapat cerita kalau Mbah Buyut saya yang memulai.
Kapan itu, Mas?
Tahun pastinya saya kurang tahu,
namun sebelum kemerdekaan, Mbah Buyut saya
ikut bertransmigrasi dari Ponorogo ke Jember untuk jadi buruh bako (tembakau). Kebetulan biasanya para
transmigran dari Ponorogo berkumpul di satu daerah tertentu.
Nah dari situlah kemudian, Mbah Buyut mengajak orang-orang berkesenian
reog. Untuk hiburan. Kemudian berjalan hingga terbentuk paguyuban Singo Mudo
yang dikelola Pakdhe saya. Kegiatan
berkesenian sempat berhenti saat peristiwa G30S, reog dibakar dihabiskan semua.
Setelah itu hidup lagi sekitar tahun 65/66 sampai sekarang ini.
Dari sekadar ‘hiburan’ itu lalu
berkembang jadi penanda identitas orang Ponorogo di Jember Selatan nggih, Mas?
Mungkin bisa dibilang begitu. Memang,
kan, kalau di wilayah selatan ini mayoritas dihuni masyarakat Jawa, kalau di
utara mayoritas Madura. Mungkin itu yang membuat reog diterima dan berkembang
di sini.
Ya, karena mayoritas masyarakatnya
orang-orang Ponorogo dan daerah di pedalaman Jawa lainnya. Sampai itu, kan,
bisa dilihat dari jalur bus Akas. Kalau di terminal (Tawang Alun) bahkan nggak
ada jurusan langsung Jember-Ponorogo,
tapi kalau Ambulu-Ponorogo justru
ada. Artinya memang mayoritas orang Ponorogo yang bertransmigrasi ke Jember
berkumpul di sini. Termasuk para senimannya.
“Wilayah Jember Selatan memang didominasi masyarakat dari Ponorogo dan
Jawa pedalaman lainnya. Itu bisa dilihat, misalnya, dari jalur bus Akas. Di
terminal Tawang Alun tak ada bus Akas jurusan langsung Jember-Ponorogo namun di
sini justru ada jurusan Ambulu-Ponorogo langsung.”
Wahh … berarti bisa dibilang di Jember Selatan sini seniman kesenian
tradisional b(u)anyak ya, Mas?
Wohh ya ngelumpuk, Mas. Di Jember Selatan ini sebetulnya banyak sekali seniman, ada pemain
ludruk, gendang wayang, gamelan wayang, tiyang-tiyang
sepuh niku banyak banget. Mereka itu dulunya orang-orang top di kesenian.
Tapi sayang tidak terlalu dirangkul,
habis tanggapan ya sudah, begitu saja … Pernah saya inisiasi untuk membuat
semacam forum silaturahmi untuk orang-orang sepuh itu. Dan responnya baik
sekali. Seandainya ada semacam apresiasi tersendiri buat tiyang-tiyang sepuh
itu sebetulnya menarik. Wes mboten usah
mikiri duit (sudah, tidak perlu memikirkan uang), tiyang-tiyang sepuh niku
cuman pingin diwadahi untuk mengekspresikan keseniannya.
Kalau terkait latihan reog khusus anak-anak itu dimulai sejak kapan
nggih, Mas?
Kalau yang khusus anak TK-SD baru
tiga bulan berjalan ini, Mas. Sebelumnya lebih ke remaja-dewasa. Kalau Sabtu
malam yang dewasa latihan, nah kalau yang Minggu dari pagi sampai zuhur
anak-anak.
Ini saya kira sangat menarik, Mas, jadi sekaligus mengenalkan dan
melestarikan kesenian tradisi reog kepada anak-anak …
Dulu awalnya iseng aja, Mas. Waktu
saya pasang WiFi kok banyak anak-anak yang suka main ke rumah. Terus saya
kepikiran, kalau sekadar main atau ngumpul tanpa kegiatan positif eman-eman. Ya, hitung-hitung mengenalkan
sekaligus melestarikan kesenian reog. Tapi, sebetulnya bukan itu saja, lewat
seni tradisi, ada banyak sekali nilai yang mempengaruhi pembentukan karakter
bagi anak-anak.
Wah, berarti ada bedanya ya, Mas, anak-anak yang mengenal dan mendalami
seni tradisi sejak kecil dan yang tidak?
Kentara banget, Mas. Bagaimana mereka
kelak bersosialisasi di masyarakat, tata krama kepada orangtua, juga dari
tingkat kepercayaan diri. Dari sana saja sudah kelihatan. Reog juga bukan
sekadar gerakan, ada nilai dan olah rasa di sana.
Itu yang nanti turut membentuk
anak-anak. Demi memastikan penanaman nilai itu, biasanya setiap tiga bulan
sekali saya main ke rumah orangtuanya anak-anak. Sekadar tanya, ada sesuatu
yang berbeda tidak dari sebelum dan sesudah mengikuti latihan reog. Misalnya,
mulai memakai boso (krama halus) saat komunikasi sama orangtua.
“Reog bukan sekadar gerakan, ada penanaman nilai tradisi dan olah rasa di
dalamnya.”
Ada nggak, Mas, orangtua yang justru merespon kurang baik saat anaknya
ikut latihan?
Jelas ada, Mas, ini lagi yang menjadi
tantangan berat saya ke depan. Stigma seni tradisi, utamanya reog itu telanjur
disalah pahami oleh mayoritas masyarakat. Pertama, mereka ngira reog itu kok
yang mistis-mistis begitu. Kemasukan jin saat tampil. Wah ini jelas keliru,
reog justru tidak ada yang seperti itu, coba sampean cek sudah atau lihat di
YouTube reog Ponorogo nggak ada yang begitu.
Saya ini sampe pernah, Mas, saat
tampil begitu penontonnya nyorak kok ora
dadi? Yo tak jawab, ora, setane ora
gelem mlebu. Anggapan seperti ini yang pelan-pelan ingin saya ubah.
Ini juga terjadi saat saya mau bikin
ekstrakulikuler reog di salah satu SMA di Ambulu. Wah, itu meyakinkan
guru-gurunya sangat sulit. Mereka beranggapan pelaku seni tradisi reog itu
orang sangar-sangar, tukan mendem, dan lain sebagainya.
Padahal ini keliru, saya sendiri
kurang sepakat memang dengan kebiasaan mendem
yang dilakukan beberapa pelaku reog. Kalau seumpama penonton lihat, ada anak
kecil yang juga lihat ini yang bisa membuat anggapan keliru terhadap seni
tradisi reog. Lagipula, kalau yang bener-bener berkesenian, minum sebelum tampil itu justru marakke dodo koyo arep copot rasane.
Kalau reog sendiri itu ada beragam versinya kah, Mas? Apa berbeda reog
yang di Jember dengan di Ponorogo?
Ada, dulu awalnya versi reog yang
muncul itu reog pusaka. Tapi karena kemudian orientasinya sedikit bergeser,
muncul kemudian versi reog obyog. Ini yang orientasinya hiburan. Jadi sekarang,
reog obyog ini yang mayoritas berkembang di Indonesia.
Reog obyog juga lebih universal, bisa
dinikmati tua-muda soalnya menonjolkan langgam-langgaman dan campur sari. Juga
ada reog model festivalan, ini yang biasanya dibuat lomba. Lebih menekankan
pada cerita, kalau sekarang mungkin semacam drama tari.
Kalau reog di masing-masing daerah
memang punya ciri khas. Tapi, di mana-mana reog ya Ponorogo. Substansinya sama,
kalau ada yang berbeda mungkin pada kreasinya. Misalnya ada reog ciri khas Jakarta-an,
Madiun-an. Kalau di Jember sendiri, biasanya propertinya lebih besar ketimbang
yang asli Ponorogo. Juga, yang berkembang di daerah Jember Utara sana biasanya
cenderung lebih atraktif.
Pada 2004, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia memang telah hak cipta
reog Ponorogo kepada pemerintah kabupaten Ponorogo.
Obrolan kami berlangsung hingga satu jam lebih. Ada banyak sekali pelajaran yang kami petik saat berkunjung ke sanggar Kiprah Saka Wetan. Ke depan, berkolaborasi dengan Kiprah Saka Wetan, Imaji Sociopreneur bertekad ingin turut menanamkan nilai serta membentuk karakter anak melalui seni tradisi. Hal ini sejalan dengan program ‘Imaji Academy’ dalam ALP Village 2021, yakni pendidikan karakter anak. (*)


