Bagikan

Di bawah kemegahan Hyang Raung, tepatnya di Desa Slateng, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, berdiri Pondok Pesantren At-Tanwir yang juga dikenal sebagai “Pesantren Kopi”. Sesuai namanya, yakni cahaya yang menerangi sekitar, Ponpes At-Tanwir bak lentera yang memancar dari bawah Hyang Raung. Pancaran cahayanya berupaya menembus masuk ke gelapnya permasalahan yang dihadapi masyarakat. Bukan sekadar masalah pendidikan, namun juga sosial dan ekonomi masyarakat.

Pada Sabtu (16/10) lalu, saya berkesempatan mengobrol dengan Kyai Zainul Wasik, pengasuh ponpes. Ditemani aroma kopi Raung yang menguar, kami mengobrol panjang lebar mulai dari sejarah pondok, keterkaitan kopi dengan pondok, hingga cerita mula-mula bagaimana At-Tanwir kemudian dikenal sebagai “Pesantren Kopi”.

*

Cerita Pesantren At-Tanwir dimulai pada 2006. Kyai Zainul Wasik yang ketika itu baru berusia 27 tahun pada mulanya mendirikan kelompok bermain dan belajar untuk anak-anak di sekitar Desa Slateng. Setelah berjalan beberapa hari, ia mulai menyadari suatu kejanggalan: anak-anak yang bergabung bersamanya ternyata tidak bersekolah. Selain itu, ia turut menemukan fakta bahwa meski Desa Slateng menyimpan potensi ekonomi yang besar, 80 persen masyarakatnya memilih bekerja sebagai tenaga kasar di luar kota bahkan luar negeri.

Setelah menelusuri lebih lanjut, ia menemukan sejumlah faktor yang menyebabkan tingginya jumlah anak putus dan tidak sekolah di sana. “Ternyata masalahnya ada pada biaya, waktu, dan budaya,” ujar kyai asal Kecamatan Mayang itu. Berangkat dari permasalahan itulah kemudian ia memberanikan diri membuka SMP terbuka pada 2008. SMP ini yang kemudian menjadi cikal-bakal Ponpes At-Tanwir.

“Berjalan 1-2 tahun ini muncul masalah administrasi, karena rata-rata anak-anak sudah lama tidak sekolah, kita harus mengajak sekaligus memahamkan orangtuanya pelan-pelan. Anak-anak awalnya dulu nggak mau pakai seragam, nggak mau pakai sepatu, yasudah nggakpapa yang penting pakai pakaian sopan dulu,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, proses mengedukasi masyarakat terkait pentingnya pendidikan yang dilakukan Gus Danil, sapaan akrab Kyai Zainul Wasik, mulai berbuah manis. Salah satu indikatornya, sejak 2010 mulai banyak orangtua yang menitipkan anaknya kepada Gus Danil. Utamanya, para orangtua mempercayakan anak-anak mereka untuk memperdalam ilmu agama di sana.

“Ketika itu saya balik bertanya kepada orangtuanya, apa nggak keliru menitipkan anaknya ke sini, kita kan bukan pondok, kita hanya tempat belajar. Kita nggak punya mushola, WC, asrama putri …,” tuturnya.

“Tapi ternyata orangtua tetap kekeh menitipkan anaknya dan percaya kepada kami. Lalu makin hari makin banyak anak yang dititipkan,” tambahnya.

Namun, bukan berarti permasalahan pendidikan sirna seluruhnya. Pada masa-masa itu pula, Gus Danil sempat berkali-kali bongkar-pasang guru dan mengatur jadwal agar target kegiatan pembelajaran di SMP dapat terpenuhi. Pasalnya, saat musim panen tiba, anak-anak banyak yang bolos sekolah demi membantu orangtuanya memanen kopi di kebun dan hutan.

“Masalahnya, utamanya anak-anak yang santri ‘kalong’ itu saat ujian semester terkadang justru tidak ada. Saya tanya kemudian, kenapa? Ternyata anak-anak itu ada di hutan & kebun. Saya kaget, lho sekarang ini kan waktunya semester, kok malah ke hutan. Dijawab, ya karena bantu orangtua mempersiapkan panen kopi. Artinya masalahnya ada pada kopi. Pada 2008 memang sudah terasa fenomena itu, makanya ketika itu kami bongkar-pasang guru, sebabnya karena terkadang gurunya datang muridnya nggak ada dan muridnya ada gurunya justru yang tidak ada,” ujarnya.

Pada mulanya, Gus Danil memang sempat memandang kopi sebagai ‘sumber masalah’. Namun, setelah terjun langsung di dunia kopi, ia berhasil menemukan sudut pandang lain: bahwa kopi bukan sekadar komoditas semata, namun juga membentuk kultur sosial-ekonomi masyarakat di sekitar sana.

“Saat itu saya merasa tidak adil, kok sudah memvonis kopi sebagai masalah tapi belum mengetahuinya secara detail. Akhirnya saya coba terjun, saya belajar dari pembibitan sampai pengolahan. Dan akhirnya menemukan bahwa kopi bukan sekadar menyimpan potensi ekonomi, namun juga turut membentuk identitas kultur masyarakat di sini.”

Demi terus mempelajari dan mencari titik temu antara kopi dan pendidikan, Gus Danil makin serius masuk ke dunia kopi. Di sana, ia tak sekadar mempelajari proses pengelolahan kopi, namun juga bagaimana kopi membentuk keterikatan sosial, kebersamaan, hingga potensi perbaikan ekonomi dan sosial masyarakat ke depan. Bukan hanya itu, pada 2017, yayasan At-Tanwir berkolaborasi dengan Tim Riset Malang dan sejumlah stakeholder lainnya melakukan aktivitas pendampingan dan kajian lebih jauh. Pada saat inilah kemudian, Pesatren At-Tanwir mulai dikenal dengan 'Pesantren Kopi'.

“Akhirnya saya sedikit menemukan titik temu bagaimana kopi yang telah merasuk menjadi identitas dan budaya di sini bisa digunakan untuk transformasi masyarakat. Yaitu melalui pendidikan. Dari sinilah kemudian Pondok At-Tanwir lahir dan kemudian dikenal sebagai Pesantren Kopi, sebab memang segala pembangunan, pemenuhan infrastuktur penunjang pembelajaran, dan biaya pendidikan santri menunggu uang hasil panen kopi,” terangnya.

Demi mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengolahan kopi, selain dibekali dengan ilmu agama para santri di PP At-Tanwir pun juga diberi edukasi terkait pengolahan kopi dari hulu hingga hilir. Tujuannya, tak lain agar setelah keluar dari pondok, para santri dapat berkontribusi mengelola potensi kopi Raung yang cukup besar.

“Utamanya santri yang berasal dari daerah sini, itu kami beri edukasi dari mulai pemilihan bibit, sortasi, hingga pengolahan kopi. Supaya ke depan potensi kopi di sini bisa dikelola sendiri oleh warga sekitar. Juga, supaya mereka mensyukuri bahwa mereka bisa makan, sekolah, bertempat tinggal di sini, itu rezeki Allah melalui perantara kopi.”

Kini, nyaris 11 tahun sudah Pondok Pesantren At-Tanwir berdiri. Upayanya untuk terus berkontribusi dalam perbaikan masyarakat mulai membuahkan hasil. Di bawah Hyang Raung itulah ia berdiri dan bersinar untuk masyarakat.

Dapatkan produk Pesantren Kopi di sini.

https://imajisociopreneur.id/storage//storage/images/summernote-image/1643081549.JPG