Oleh: Regyta Nuraini*
Judul
Buku: Sekolah itu Candu
Penulis:
Roem Topatimasang
Penerbit:
INSISTPress; Yogyakarta
Tahun
Terbit: Cet.12 Th. 2013
Jumlah
Halaman: xvi, 129
Di awal buku ini, penulis menceritakan apa makna sekolah yang
sebenarnya. Secara harfiah mungkin
kita memahami sekolah merupakan sebuah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di suatu lembaga tertentu. Namun, ilmu yang belum saya
tahu sebelumnya yakni makna dari kata
sekolah sendiri berartikan “waktu luang”, sungguh di umur saya yang ke-20 tahun baru mengerti awal mula makna sekolah. Menurut buku ini secara
singkat makna sekolah yakni membuat waktu luang yang bermanfaat dengan
belajar.
Sebagian dari kita jika disuguhkan kata ‘sekolah’ pasti terlintas suatu
kegiatan formal antara pengajar dan
siswanya di suatu tempat tertentu. Namun, buku ini seolah-olah dapat mengubah mindset saya
menggenai sekolah, bahwa sekolah tidak hanya dilakukan di gedung sekolahan maupun gedung universitas saja,
bahkan sekolah pun dapat dilakukan di mana saja dan oleh kalangan
manapun, seperti salah
satu contoh sekolah
yang disebutkan di buku ini yakni
Sekolah Pamong. Sekolah yang bahkan kegiatan belajarnya bisa dilakukan di lapangan terbuka sekalipun.
Dalam buku ini juga tercurahkan sedikit keresahan penulis. Karena
mungkin sebagian dari kita masih belum memahami esensi dari ‘belajar’
itu sendiri. Banyak orang yang bersekolah di instansi yang memang diakui oleh pemerintah dengan dalih tidak ingin membuang-buang waktu. Jadi, bahkan sekolah yang memang
tidak memiliki lisensi dari pemerintah sekarang
cenderung tidak dilirik
atau bahkan akan tutup total. Ya, memang
kenyataannya roda pendidikan berjalan seperti itu.
Di pertengahan buku ini juga dipaparkan betapa mirisnya nasib anak anak di
beberapa penjuru dunia, seperti anak
anak di Palestina yang bahkan setiap harinya dipaksa membaca spanduk-spanduk reformasi, rumus taktik
gerilya atau bahkan rumus sabotase di usia yang sekecil itu. Bahkan di penjuru dunia lain dari kita mungkin tidak jarang
menjumpai anak anak yang harus bekerja seusai
mereka bersekolah, yang seharusnya tidak dihadapi oleh usia sekecil mereka
apalagi di daerah pedesaan.
Sebagian dari kita juga pasti menganggap segala sistem pendidikan saat ini menjadi ‘ruwet’, dalam buku ini penulis sedikit menyinggung hal tersebut. Bahkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memiliki karyawan paling banyak di antara kementerian lain, dan juga kementerian penghasil Sisa Anggaran Pembangunan (SIAP) terbanyak setiap tahunnya. Namun hasilnya? Sumber daya mutu lulusan sekolah yang bahkan cenderung menurun, menyita habis waktu guru, dan kehidupan murid- murid yang masih banyak hambatan dan lain sebagainya. Namun percobaan para penggelut pendidikan masih saja terus mencari cara yang menghabiskan biaya yang tentunya tidak sedikit yang justru malah tidak menemukan titik terang dan makin memperburuk keadaan. Dengan kata lain, upaya pembaharuan itu hanya berpusing-pusing membongkar-pasang gejala permukaan (epifenomena) dari sistem pendidikan, bukan inti permasalahan yang sebenamya. Apa yang terjadi bukanlah inovasi yang sesungguhnya, tetapi proses involusi.
Keresahan yang lain juga dipaparkan oleh penulis, di
beberapa pedesaan yang mata pencaharian utama
masyarakatnya sebagai petani,
beberapa anak hanya lulusan sekolah
dasar. Dikarenakan banyak
kasus yang berusaha untuk menempuh sekolah hingga ke jenjang STM dengan jurusan Teknik Elektro, namun ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannnya dan menjadi petani. Maka
sebagian anak di daerah tersebut berpendapat, lalu untuk apa sekolah
jauh jauh hingga
ke kota jika ujun ujunnya
sama saja menjadi
petani, mengapa tidak mulai dari awal saja?
Di lain sub-bab buku ini, dipaparkan kembali keresahan penulis
tentang sisem pendidikan Indonesia
yang sempat menjadi acuan bagi negara lain ditahun 1960-an. Namun kini sistem pendidikan Indonesia yang tertinggal jauh dari
negara lain. Penulis juga menyinggung beberapa anggaran yang tidak tepat
guna atau bahkan banyak yang dikorupsi. Hingga tahun 2006, Indonesia
menjadi salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi. Jadi, masalahnya memang
bukan pada soal ketersediaan biaya, tetapi lebih pada pengelolaan dan
kebijakan peruntukan biaya yang sebenarnya mungkin dan dapat tersedia.
Juga mengenai apa yang selama
ini diajarkan oleh sekolah. Bahkan
watak lulusan siswa ini
bukan tercipta dari lembaga yang bernama sekolah.
Lantas apa yang diajarkan atau digembor-gemborkan oleh instansi yang bernama sekolah?
Atau hanya menuntut
seorang anak yang tidak tau menjadi tau? Sedikit
lulusan yang memiliki keterampilan selama di sekolah, pasti keterampilan itu terbentuk dari luar instansi sekolah. Bahkan
banyak profesi yang tidak se-linier dengan jurusan sekolahnya dulu. Mungkin dari kita banyak menjumpai sarjana
keguruan menjadi kasir attau bahkan sarjana olahraga menjadi pegawai
bank. Lalu apa makna sekolah sebenarnya jika keterampilan yang kita dapat tidak sesuai?
Jadi bisa dikatakan sekolah tidak berjalan sebagai mana mestinya
alias sekolah sudah mati.
Secara keseluruhan, buku ini menceritakan beberapa keresahan atau beberapa pertanyaaan besar dari sang penulis. Dan juga mengulik sediki sejarah mengenai sekolah sendiri dan apa makna sekolah sesungguhnya. Sehingga diharapkan pembaca kembali menemukan apa esensi sekolah sesungguhnya dan apa sebenarnya tujuan kita bersekolah. Agar tidak salah kaprah atau hanya sekadar mengikuti alur pemerintah.
Atribusi Penulis:
*Regyta Nuraini,
mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UNEJ (2020) dan research apprentice
Imaji Sociopreneur.

Source: berdikaribook.red


